Drift culture Jepang telah lama menjadi fenomena global, dan dampaknya terhadap modifikasi mobil di seluruh Asia sangat signifikan. Berawal dari pegunungan di Jepang sebagai cara untuk melaju kencang di tikungan, drifting telah berkembang menjadi olahraga motor yang diakui secara internasional dan gaya hidup modifikasi yang populer. Mobil-mobil yang dimodifikasi untuk drifting, dengan bodi lebar, spoiler besar, suspension yang rendah, dan mesin bertenaga tinggi, kini menjadi inspirasi bagi penggemar modifikasi di berbagai negara Asia.
Salah satu dampak paling terlihat adalah dalam pemilihan model mobil. Mobil-mobil Jepang yang ikonik seperti Nissan Silvia, Toyota AE86, dan Mazda RX-7 menjadi favorit di kalangan drifter dan penggemar modifikasi karena potensi performa dan ketersediaan suku cadang aftermarket-nya. Modifikasi mesin untuk meningkatkan tenaga, penyesuaian suspension untuk kontrol yang lebih baik saat drift, serta penambahan body kit aerodinamis menjadi standar.
Di Asia, drift culture tidak hanya memengaruhi aspek teknis modifikasi tetapi juga gaya estetika. Desain body kit yang agresif, velg dengan offset lebar, dan livery balap yang mencolok, yang menjadi ciri khas mobil drift Jepang, banyak ditiru oleh komunitas modifikasi lokal. Ini menciptakan subkultur otomotif yang unik, di mana penggemar berkumpul untuk memamerkan mobil mereka, bertukar ide, dan bahkan mengikuti kompetisi drift lokal.
Meskipun drift culture menghadirkan semangat persaingan dan kreativitas, penting untuk menekankan aspek keamanan. Banyak komunitas drift yang terorganisir di Asia kini mempromosikan praktik drifting yang aman di lintasan tertutup atau area yang ditentukan, bukan di jalan umum. Dengan demikian, drift culture Jepang terus membentuk lanskap modifikasi mobil di Asia, menginspirasi inovasi dan semangat komunitas.

