Setelah periode panjang lockdown dan pembatasan perjalanan akibat pandemi, Tiongkok dan India menyaksikan fenomena “revenge spending” atau belanja balas dendam, terutama pada sektor barang mewah. Konsumen yang menunda pembelian besar selama pandemi kini membelanjakan tabungan mereka untuk produk dan pengalaman premium sebagai bentuk kompensasi atas waktu yang hilang.
Di Tiongkok, belanja mewah domestik melonjak tajam karena pembatasan perjalanan internasional yang masih berlaku. Konsumen yang biasanya berbelanja di Paris atau Milan kini mengalihkan daya beli mereka ke butik-butik mewah di Shanghai dan Beijing, mendukung pertumbuhan merek-merek mewah di dalam negeri.
Demikian pula di India, pasar barang mewah mengalami kebangkitan yang signifikan. Generasi muda yang memiliki pendapatan siap pakai lebih tinggi menunjukkan preferensi yang kuat terhadap merek-merek global dan pengalaman mewah yang dipersonalisasi, mulai dari fashion hingga perjalanan eksklusif.
Pergeseran perilaku ini didorong oleh keinginan untuk merayakan kebebasan yang baru ditemukan, meningkatkan status sosial, dan memanjakan diri setelah periode penuh ketidakpastian. Media sosial juga berperan penting dalam memicu tren ini, dengan influencer memamerkan pembelian mewah mereka.
Meskipun fenomena ini mendorong pemulihan ekonomi di sektor ritel mewah, pertanyaan tetap ada mengenai keberlanjutannya dalam jangka panjang. Namun, untuk saat ini, revenge spending telah memberikan dorongan signifikan bagi merek-merek mewah di dua pasar konsumen terbesar di Asia ini.

